Pembelajaran Menulis Puisi dengan Objek Nyata


Sulit, adalah kata yang sering terbayang-terbayang bagi sebagian orang ketika diminta untuk menulis puisi. Inspirasi sulit didapatkan, mood lagi hilang atau berbagai macam alasan lainnya yang dapat membuat kita terhambat untuk menulis puisi. Tak perlu risau, inspirasi bisa dengan mudah kita dapatkan, tak perlu jauh-jauh mencari ketenangan ke pantai atau mendaki gunung nan jauh. cukup amati apa yang ada di sekitar kita, lalu jadikanlah itu inspirasi untuk puisi. Seperti contoh puisi di bawah ini yang terinspirasi dari benda yang sering kita jumpai, Kardus!  gimana ya itu? Yuk baca puisinya.....

#Kardus



Aku duduk di sebuah kardus.
Duduk dan hanya memerhatikan setiap sudut dan hanya kardus.
Terlintas kala kardus adalah kotak besar dan aku begitu kecil,
 bisa jadi itu sebuah mobil.
atau mungkin kardus itu rumah.
Kala itu kardus pun adalah kereta, berjajar rapi dengan kardus lain.
Kardus bukanlah kardus,  kala imaji kecil itu berlarian dengan riangnya .

Andaikan ia tetap berlari tanpa mengenal lelah.
Namun dia semakin jauh berlari semakin berat beban realita yang dipikulnya.
Realita yang menjadikan kardus tetaplah kardus.
Kardus  hanya sebagai pembungkus.
Realita jadikan manusia hanya sekadar manusia.
Hanya berjalan pada garis yang ada.
Seolah jalan itu sudah tersedia baginya untuk berjalan.

Berjalan pada tujuan yang tercipta untuknya,
tanpa terlintas kemungkinan ialah pencipta.
Pencipta yang semakin mengerdil ketika menyelaraskan cita dengan realita.
Cita yang membias luas tanpa realita.

Namun, aku tak cukup gila menjadikan kardus sebagai mobil.
Akupun bukan gelandangan yang berteduh diatap kardus sebagai rumah.
Cita pun perlu tempat berpijak.
Tempat menyelaraskan cita dan realita pada tujuan.

Gunting, penggaris ataupun lem menjadikannya
bukan sekadar kotak tanpa makna.
Karena kau sang pencipta.
Pencipta kotak pensil ataupun pigura dari sekadar kardus.
Tempat pensil penyedia ruang bagi pensil berserak.
Pigura yang membingkai perjalanan hidup.

Kardus bukan hanya sekadar kardus.
Saat cita, realitas dan tujuan akur saling bertegur sapa
dan berjalan damai beriringan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih, Maaf dan Andai (Cinta dalam Diam)