Terimakasih, Maaf dan Andai (Cinta dalam Diam)
Terimakasih
pun masih menjadi piutang yang belum lunas terbayarkan padamu yang telah
menumpahkan dengan segala kesungguhan. Iya, kesungguhan yang menguji kala waktu berharap
tuk menerima sapaan atas rasa suka yang tak mampu membias. Hingga tak pernah
kau merasa sia-sia atas waktu yang tak mampu menunjukkan jatuh temponya. Kau
gadaikan rasa tuk menjadi alasan berdiri diatas ketidakpastian. Ketidakpastian yang berujung pada keraguan dan
kesia-siaan. Yang mengikatmu untuk datang ataupun melepasmu untuk pergi.
Maaf,
mungkin kata yang lebih tepat. Atas ketidakmampuan menyelaraskan rasa yang kau
patri untukku. Karena akulah yang menghendaki dan menghindari kehadiranmu.
Logika dan rasa menyudutkanku tuk jadi seorang munafik. Iya, munafik karena tak
tau suatu yang diinginkan ataukah suatu yang hanya sekadar pantas. Pandangan
yang menghakimi kata pantas dengan menafikan bisikan nurani di atas logika.
Nurani yang meski menghantarkan mungkin tuk adanya secuil kebahagiaan.
Bahagia,
satu yang mungkin tergenggam jika tak pernah jatuh pada bayang-bayang kata
“andaikan”. Waktu yang tegas mengadili setiap langkah pada pilihan. Iya, pilihan yang mengaburkan
salah satu titiknya tentang penyesalan. Namun, takkan kubuat diriku terjatuh
atas penyesalan, karena aku masih mampu menyusup dengan sekadar andaikan tuk
memungut secuil kebahagiaan di atas tumpukan sampah penyesalan.
Andaikan
langkahku lebih berani tuk menyambut pertanda yang silih berdatangan dari mulut ke telinga ataupun kata yang tersirat
pada pesan-pesanmu. Namun, maaf karena saat itu aku menulikan telinga dan
membutakan mataku. Taukah kamu, aku tak hanya sekadar tuli atau buta karena
saat itu pula aku terperosok pada hal yang tak pernah kau sadari, yaitu menunggu.
Kaki kita yang saling menunggu dan terlalu malu hingga tak mampu memulai satu
langkah. Aku yang tak menyadari atau kamulah yang tak pernah mengusahakan untuk
menyelaraskan rasa, kata dan upaya mewujudkannya pada cita bersama. Maaf, aku
hanya bersembunyi dsengan status sebagai seorang perempuan. Iya, perempuan yang
biasanya hanya mampu tuk menunggu dan tak ada upaya tuk memulai. Aku sadar
pilihanku adalah hanya menjadi perempuan biasa hingga semua sekejap pudar
karena hadirnya dia yang luar biasa.
Konsekuensi,
senantiasa berjalan beriringan dengan pilihan. aku yang memilih pilihan, dan
konsekensi pun akan kutanggung sendiri. Aku cukup memahami pilihanku yang
berujung pada ketidakmungkinan bagi kita tuk menyatukan dua langkah. Ya, itulah
yang menjadi sesal hingga ku hanya mampu bertumpu pada andaikan. Sekali lagi
andaikan ku pilih tuk mengupayakan bersatunya dua langkah kita. Andai saat kau
mengulurkan tanganmu aku juga mendekapnya dengan erat. Andai saat kau tunjukkan
luka, akupun sigap menyembuhkan luka itu. Andai ku mampu bertaruh dan yakin
berdiri diatas dia yang luar biasa. Iya, akupun mampu menghadirkan senyum
ketika bermain-main pada andai meski kaki terlalu dalam terjebak dalam jejak
sesal.
Sesal, yang membuatku semakin hari semakin
bodoh. Yang terlalu bodoh tuk terjebak
pada pilihan yang hanya menjadikanku seorang pengecut. Pengecut yang hanya diam
sementara tanganmu mulai digenggam oleh dia yang luar biasa. Dia yang luar
biasa, yang mampu mengikuti hati nuraninya. Dia yang mampu memulai langkah
tanpa menengok segala kemungkinan karena hanya memerjuangkan yang ia kehendaki
tuk diperjuangkan. Kehendak yang ia yakini dan ia sadari hanya padamu. Dan aku
tetaplah pengecut, hanya mampu berkehendak tak pernah mulai tuk bertindak.
Hah, andaiku terlampau jauh padamu hingga
siang malamku terlalu bodoh hanya terngiang-ngiang yang tak mungkin tuk jadi
kenangan. Kenangan yang tak pernah ada karena hanya aku yang berandai terlampau
indah. Akupun tak tau seberapa jauh kau mulai jengah dan berlari meninggalkanku
yang tanpa daya tuk melangkah. Selamat untukmu yang mampu membingkai perjalanan
rasa yang mungkin akan ada sekali saja untukku. Indah kenangan itu mungkin akan
memberikan warna di tengah abu-abu kehidupanku. Meski warna itu luntur dan
memudar dalam sekejap, setidaknya pernah ada yang meninggalkan noda warna dalam
perjalanan rasa.
Terimakasih,
maaf dan andaikan adalah tiga kata yang ingin kuhadirkan untukmu. Sekalipun
mulut ini terbungkam dan kakiku pun terikat rapat tuk melangkah padamu. Hah,
memang akhir sebagai pengecut yang hanya mampu kuperankan. Akan kubingkai
perjalanan rasamu sebagai kenangan diatas andai tuk memerindahnya. Maaf, karena
aku hanya berani mengusikmu tuk kenangan semu. Terimakasih, telah menitipkan
cerita yang akan kubaca setiap harinya dan kulanjutkan akhirnya tanpa
kehadiranmu. Untuk yang lalu, yang tak pernah mampu untuk menjadi sekarang
ataupun esok.

Komentar
Posting Komentar